Resensi Novel [2] : Girls In The Dark ; Akiyoshi Rikako

Mutiara Hitam Itu Telah Mati

Judul asli buku    : Girls In The Dark
Judul terjemahan : Gadis Dalam Kegelapan
Penulis                 : Akiyoshi Rikako
Penerjemah          : Andry Setiawan
Penerbit                : Penerbit Haru
Kota terbit            : Jakarta Selatan
Tahun terbit          : 2015
Cetakan                : IV, Agustus 2015
                               V, Desember 2015
Tebal buku           : 289 halaman 
ISBN                    : 978-602-774-31-4

Novel ini merupakan salah satu novel Jepang  yang bergenre mystery karya Akyoshi Rikako. Cerita yang dikemas dengan rapi dan menarik ini membuat para pembacanya enggan untuk meletakkan buku ini. Pada setiap bab-nya, pembaca akan disuguhi dengan  potongan-potongan kisah dari setiap tokoh, selain itu pembaca diajak untuk masuk ke dalam cerita, sehingga pembaca seakan-akan ikut terlibat dalam cerita tersebut. Begitulah cara penulis dalam menciptakan chemistry antara pembaca dengan tokoh dalam novel tersebut, yaitu dengan mengajak pembaca untuk ikut serta mengambil peran dalam setiap alur yang ditulisnya.
Sang penulis novel ini merupakan warga yang berkebangsaan Jepang. Akiyoshi merupakan mahasiswa lulusan Universitas Waseda dari Fakultas Sastra. Akiyoshi mendapatkan gelar master-nya dalam bidang layar lebar dan televisi dari Universitas Loloya Marymount, Los Angeles. Kemudian, pada tahun 2008, naskah cerpennya yang berjudul Yuki no Hana mendapatkan Penghargaan Sastra Yahoo! JAPAN yang ke-3. Bersama dengan naskahnya yang mendapatkan penghargaan, pada tahun 2009 dia debut dengan kumpulan cerpen yang berjudul Yuki no Hana. Hal ini yang menjadi awal kiprahnya menjadi seorang penulis novel.
Akiyoshi telah beberapa kali menerbitkan tulisan tangannya ke dalam sebuah novel. Dari sekian banyak novel karyanya, novel dengan genre horror-mystery  adalah salah satu yang paling diminati. Dalam novel ini, penulis menggunakan permainan sudut pandang dan plot yang membuat cerita ini berbeda dari yang lain . Penggunaan alur campuran akan mengundang rasa penasaran dari pembaca. Konfliknya sangat kompleks, tetapi semua itu akan merujuk kepada satu permasalahan, yaitu konflik yang dialami oleh sang tokoh utama itu sendiri.
Selang beberapa bulan, Akiyoshi juga menerbitkan karyanya yang lain dalam sebuah novel yang berjudul The Death Returns dengan genre fantasinya. Novel ini juga mengangkat tema yang sama seperti dalam novel Girls In The Dark, yaitu berlatarbelakang pembunuhan. Konflik yang diusung-pun juga menekankan hal yang sama mengenai pemecahan kasus pembunuhan. Namun, terlepas dari itu semua, jalan cerita dari kedua novel ini tentunya sangat berbeda. Kendati demikian, para pembaca kebanyakan menganggap bahwa novel The Death Returns mempunyai benang merah dengan novel Girls In The Dark.
Cerita ini berawal dari sebuah peristiwa mengejutkan. Sekolah Katolik, SMA Putri Santa Maria digemparkan oleh kematian seorang ketua Klub Sastra. Pembunuhan? Bunuh diri?. Tidak ada yang tahu. Jasadnya ditemukan di kompleks sekolah dengan posisi tubuh telungkup dan bersimbah darah di dekat pot bunga di bawah teras. Shiraishi Itsumi. Demikianlah nama tokoh utama dalam cerita ini. Tangan pucat Itsumi mengenggam setangkai bunga lily. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkharisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang  mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka. Hingga pada akhirnya salam penutup-pun disampaikan oleh ketua klub yang baru, Sumikawa Sayuri, yang membuat mereka merinding setengah mati. Ia membacakan surat wasiat yang ditulis langsung oleh Itsumi.
Kelima orang itu terkejut bukan main. Kematian Itsumi hanyalah suatu kebohongan belaka. Itsumi telah berhasil mengelabuhi semua orang. Tidak disangka, gadis yang dielu-elukan itu ternyata menyimpan rahasia yang besar. Rahasia tentang kisah cintanya yang rumit. Hubungan asmara antara seorang guru dengan murid memang tidak dapat dibenarkan. Hingga suatu saat, Itsumi mendapat buah dari hubungan terlarangnya tersebut. Hal itu kemudian diketahui oleh ayahnya. Dunianya serasa runtuh. Sang ayah melarang hubungannya dengan Hojo-sensei dan kemudian menyuruh Itsumi untuk segera mengugurkan kandungannya.
Selama berminggu-minggu ia terpuruk, tak bisa berpikir jernih. Siapa yang telah mengadukan ini kepada ayahnya?.  Hanya ada satu dari dua kemungkinan. Kalau bukan teman-temannya, siapa lagi. Ini adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh semua anggota. Peran pembantu yang selama ini menurut tiba-tiba mengajukan ultimatum. Itsumi merasa terancam. Mereka seolah mengatakan bahwa bukan mereka saja yang rahasianya digenggam Itsumi. Mereka juga menggengam jiwa Itsumi. Benar, ini adalah pernyataan perang dari mereka.
Itsumi melancarkan balas dendamnya dibantu oleh Sayuri. Ia melompat dari teras sekolah dengan mengenggam setangkai bunga lily. Bukan bunuh diri, tapi jadikan saja itu pembunuhan. Itsumi membiarkan mereka saling tuduh tentang pelaku pembunuhan. Membiarkan mereka hidup dalam rasa bersalah dan ketakutan yang akan menghancurkan mereka secara perlahan.
Tapi siapa yang tahu, bahwa pada akhirnya Itsumi juga ikut terbunuh. Dan pergantian tokoh utama-pun terjadi. Agar tokoh utama yang baru bisa bersinar, tokoh utama yang lama harus gugur dengan menawan. Lalu, penonton juga dibutuhkan dalam sebuah panggung cerita. Mulai detik itu, kisah Sumikawa Sayuri sudah dimulai.
Begitulah akhir  yang mengejutkan dari novel Girls In The Dark ini. Dari cerita tersebut, pembaca dapat menarik kesimpulan bahwa dunia ini  penuh akan manusia-manusia yang bermuka dua. Pengkhianatan dan balas dendam seakan seperti roda yang berputar, tiada habisnya. Semua yang berawal indah menjadi hancur pada akhirnya.  Melalui cerita ini, penulis ingin menyampaikan pesan kepada pembaca khususnya kaum muda agar tidak terjebak dalam lingkaran hitam tersebut dan berakhir seperti cerita yang dituliskan dalam buku ini.
Sebenarnya, kalau pembaca memperhatikan lebih seksama lagi, pembaca akan menemukan banyak sekali pelajaran berharga yang terselip dalam cerita ini. Tidak seperti kebanyakan novel mystery remaja saat ini, penulis menghadirkan cerita yang tidak sekedar ada adegan pembunuhan saja, tetapi dalam cerita ini banyak tersirat pesan moral yang dapat kita petik.
Untuk novel mystery, alur yang digunakan penulis terasa sangat mendukung. Di bagian awal, kesan misterius tersebut kentara menguar. Dari penggunaan plot saja sudah terlihat. Adanya lubang plot yang sukses memberikan hawa misterius sekaligus tantangan bagi pembaca untuk mencari tahu dan menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi, penggunaan plot ini sepertinya akan sedikit menyulitkan pembaca untuk memahami jalan ceritanya. Meskipun begitu, bahasa yang digunakan penulis juga tergolong ringan dan mudah dicerna sehingga pembaca bisa tertolong dengan ini.
 Dalam novel ini terdapat banyak unsur ekstrinsik berupa istilah yang serba-Eropa, sehingga banyak terdapat catatan kaki. Satu atau dua tidak terlalu masalah. Catatan kaki bisa jadi membantu, tetapi kalau kadarnya terlalu banyak, kadang pembaca menjadi terganggu karena harus bolak-balik menengok ke bawah hanya untuk sebuah istilah.
Secara keseluruhan novel Girls In The Dark ini sangat menarik. Mendebarkan, menegangkan, konflik yang pelik, penuh misteri dan teka-teki yang membingungkan. Novel ini sangat menarik untuk dibaca oleh remaja yang menyukai sebuah buku dengan rangkaian cerita yang memikat karena novel ini memiliki cerita yang berkualitas yang diimbangi dengan pesan moral yang sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Comments

Popular Posts