Resensi Novel [1] : Mahabbah Rindu ; Abidah El Khalieqy
Menggapai Hakikat Cinta Sejati
Penulis : Abidah El Khalieqy
Penerbit : DIVA Press
Kota terbit : Jogjakarta
Cetakan : I, November 2007
II, Februari 2008
Tebal buku : 404 halaman
ISBN : 979-963-407-5
Novel ini berkisah tentang Den Mundu, seorang perjaka Jawa, yang ingin meraih cinta dengan seorang wanita keturunan Arab bernama Soraya, yang akrab dipanggilnya Aya. Soraya sendiri kini telah memasuki usia yang cukup matang untuk menikah, namun dia belum juga menemukan tambatan hati yang pas.
Suatu hari Aya mendapat kiriman sandek alias pesan pendek dari seseorang yang mengaku bernama Raden Mundu. Ia terperangah sejenak. Menatap kata “raden” dengan perasaan asing dan segan. Sebagai perempuan lajang tentunya ia sedikit girang. Mengingat semua angan dan harapan untuk segera mendapatkan pasangan hidup. Akhirnya ia pun membalas sandek tersebut. Singkat cerita Aya akhirnya mengetahui bahwa Den Mundu adalah putra dari seorang Pekatik (tukang memandikan kuda), bukan seorang raden anak abdi dalem. Namun Aya tak mempermasalahkan hal tersebut, ia menerima apa adanya Den Mundu.
Hubungan keduanya pun makin hari makin dekat saja. Saling kirim-balas kabar lewat sandek. Den Mundu juga mati-matian belajar bahasa Arab dan memperdalam Islam karena pernah suatu ketika Soraya mengiriminya ucapan Bahasa Arab namun Den Mundu tidak tau artinya, maka sejak saat itu ia mulai berguru kepada kawannya, Fahmi.
Den Mundu semakin yakin bahwa Soraya adalah perempuan yang bakal menjadi pendamping hidupnya. Maka dengan segenap keberanian diri, ia datangi orang tua Aya. Namun, kedatangannya disambut penolakan dari keluarga Aya. Karena alasan klise yaitu nasab. Mundu berasal dari keturunan Jawa, anak seorang Pekatik. Segala upaya telah dilakukan oleh Mundu untuk mendapatkan hati orang tua Aya, bahkan ia juga berganti nama menjadi Mohammad Fauzul Fuad. Akhirnya segala upaya yang dilakukan Fuad membuat hati ibu Soraya perlahan melunak. Hingga restu pun dikantongi dan mereka berdua memantapkan hati untuk segera naik ke pelaminan.
Begitulah romansa kedua anak adam-hawa yang disajikan secara apik oleh Abidah El Khalieqy. Keteguhan hati seorang pemuda dalam menggapai hakikat rindu, hakikat cinta yang sebenarnya dalam bingkai religiusitas. Sesuai dengan labelnya, Novel Inspiratif Pencarian Kebenaran Islam, penulis berhasil memukau pembaca dengan pesan moral serta nilai-nilai spiritual Islam yang diselipkan dalam bait-bait kata yang indah. Bukan hanya bicara masalah cinta saja, tetapi novel ini juga membahas aspek akidah dan syariat.“Dan, diantara gerak yang satu dengan gerak yang lainnya, terbentang sebuah jarak bernama rindu. Dan, diantara dua rindu selalu ada perantara yang mempertemukan. Mempersatukan dan menyatukan antara tubuh dan ruh, antara lahir dan batin, antara akal pikiran dan suara hati terdalam. Sampai cahaya bersinar sepanjang siang dan malam, dalam kesunyian maupun di tengah keramaian. Menyalakan Mahabbah Rindu. Menerangi Rumah yang Satu.”- Mahabbah Rindu, hlm. 400.
Secara keseluruhan novel ini sangat menarik sehingga cocok menjadi bacaan untuk mengisi waktu luang. Selain itu, novel ini juga saya rekomendasikan bagi kalian yang sedang ingin memperdalam agama Islam, karena terdapat berbagai renungan Islam yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan disajikan dalam sebuah karya sastra yang memikat.
Bagi saya, membaca buku ini seperti sedang menyelami keagungan Sang Maha Cinta. Merasakan bahwa rindu bukan hanya tentang manusia kepada manusia, tetapi rindu juga adalah tentang manusia terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, maka akan saya beri nilai 9 dari skala 1-10 untuk novel Mahabbah Rindu.
Comments
Post a Comment